Tak disangka cerita harus berakhir, sama seperti masa waktu daun cokelat kering yang turun lepas dari ranting daunnya. Cerita skripsi cukup membuatku menampar karakter kebiasaanku untuk membentuk nilai prinsip kerja baru, yaitu kerjakan apapun yang bisa dikerjakan setiap harinya. Jika kita bedah sedikit kalimatnya, permasalahan yang rentan naik turun bagiku adalah tentang 'apapun yang bisa dikerjakan'. Sebuah revolusi bagi ku saat itu ketika dalam keadaan mentok dan low motivation. Seketika satu hari ritme kerjaku pernah hanya sekedar rapihin format penulisan dan koreksi-koreksi typo. Ternyata, cukup berguna bagiku setelahnya.
Dalam menghadapi hasil dan ekspetasi, saat itu aku memutuskan dengan mengendalikan beban pikiranku dengan hal yang sepadan dengan proses yang sama berat dan harus menikmati saat itu juga untuk dihadapi yakni as guru pendamping khusus di suatu sekolah 'inklusi'. Dipikir-pikir kok bisa ya mengambil keputusan tersebut? padahal saat itu cukup banyak pilihan yang bisa aku lakukan, entah itu fokus skripsian aja atau cari kerjaan yang tidak linear dengan jurusan yang notabene mudah mendapatkan income dengan sekedar main HP sambil rebahan,
misalkan.
Begitulah cara kehidupan bekerja ternyata. Realita keputusan yang dilakukan sering tidak berbanding lurus dengan pilihan keinginan di kepala kita. Layaknya balita, mereka serengek itu meminta yang dia sukai tanpa sebenarnya mereka ketahui konsekuensi nya. Sehingga, orang tua nya yang berjuang mengarahkan anaknya tersebut untuk melakukan hal yang harus dilakukan karena mereka tahu yang terbaik untuk kebutuhan anaknya. Bagi dewasa kita, orang tua sudah menjadi bagian mutlak yang menuntun (setidaknya) arah hidup kita sebagai anak. Namun dalam praktisnya ternyata tidak cukup sampai situ. Kenyataan kehidupan kita sekarang barangkali pula ditentukan oleh orang-orang sekitar kita yang berujung pada kehendak Allah. Maksudku, penerimaan dan pemahaman kita terhadap takdir perlu diperluas dan berpusat pada ketetapan-Nya.
Sehingga ketika kita merasa 'salah' menentukan pilihan atau arah hidup, kita fokus berkontemplasi pada diri dan Allah sebagai peran yang terpusat dari segala hal yang kita tidak punya kendali (maksudku lingkungan juga termasuk bagiannya) daripada menyalahkan kanan-kiri (orang tua, teman, saudara, dll) terdekat yang belum tentu menjamin dalam menjawab keresahan-kegelisahan kita.
Pada intinya mengenai masa Cerita Jurusan Final Game, aku belajar soal sisi gelap-terang dan kegigihan diri yang berbeda. Yang kemudian, diyakini sebagai bagian pendewasaan ku untuk belajar lebih baik lagi di fase momen berikutnya. Fyi dari yang sudah kalian baca semua blog ku (emang ada ya? wkwk), mungkin sudah tau pola tulisanku ini seperti jurnal harian yang sifatnya ngalir dan sedikit clickbait lol dari momen yang sudah terjadi. So, semoga sedikit terhibur. trims
Komentar
Posting Komentar