Keenambelas: Kenapa Aku Peduli Pendidikan Inklusif? #1

Pernah mengamati rasa gemas sekaligus antusias ketika ngelihat suatu realita yang tidak sesuai dengan teori yang pernah dipelajari? Pernah atau tidak jawabanmu, versiku seperti ini:

Sesimpel pertanyaan tersebut, aku eksplorasikan pengalamannya ketika bekerja sebagai guru pendamping di Sekolah yang 'mulut ke mulut' sudah inklusif. Ekspetasi dalam keadaan wajar sebagai mahasiswa akhir yang membutuhkan uang dan pengalaman–minimal sekali sesuai jurusan. Ternyata jadi langkah awal keputusan untuk menggapai perjalanan baru. Delapan bulan bersama mendampingi anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler/umum (bukan Sekolah Luar Biasa (SLB), dihadapkan dengan seabrek "kok gini?" "kok gitu?". 

Inklusif adalah turunan dari kata inklusi yang berasal dari Bahasa Inggrisnya include, mengikutsertakan. Dalabuku Panduan Pelaksanaan Pendidikan Inklusif terbitan Kemendikbud Ristek, inklusi adalah pendekatan yang membangun lingkungan terbuka untuk siapa saja dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda, meliputi karakteristik, kondisi fisik, kepribadian, status, suku, budaya, dan lain sebagainya.

Saat itu, dengan profil mahasiswa polosan bernandung tidak bernyawa seperti "Dalam tujuan hidup, untuk apa aku belajar/kuliah ini?" sekilas–mudah saja pernyataan itu dipahami karena bagian antar konektivitas tiap elemen didalamnya yang menjadi benang merah dengan cara, aku selalu menyebutnya 'kerja aja yang bener'. Spesifiknya, komunikasi. 

Capture in 2023

Pada masa awal bekerja itu, aku merasakan keheningan ekosistem sekolah di dalamnya. Keberadaan title atau fungsi guru pendamping khusus masih dianggap pengasuh, berharap anak yang didampingi itu diam ketika anak lainnya diam. Alih-alih anak yang didampingi terlibat berkegiatan dengan anak lainnya, ternyata sekedar diajak 'ikut hadir' berkegiatan sebagai bukti muka sekolah menerima kehadiran anak berkebutuhan khusus. Ruang diskusi dan obrolan ringan yang terpisah seperti kotak antar kotak, minim keterlibatan guru pendamping khusus berinteraksi dengan guru-guru lainnya. Apalagi, dalam tahap memikirkan cara menyejahterakannya antar keduanya–guru pendamping khusus dan anak berkebutuhan khusus.

Sekelibat perasaan yang hancur akan penafsiran teori yang menurutku simple, ternyata jadi dasar pemikiran untuk melihat lebih dalam tentang "Apa yang harus aku lakukan untuk memastikan penerapan pendidikan inklusif sesuai dengan definisi utuhnya?" 




Komentar

Postingan Populer