Kelimabelas: Problematik

Layaknya dua mata koin saat ini yang sama-sama tidak menguntungkan. Bagian ekspetasi terhalangi sisi idealis diri, bagian realita terhalangi maunya diri. Terus mau serba menyalahkan diri? Jangan ya dek ya (Peringatan: Bacaan ini direkomendasikan bagi yang sudah berdamai dengan diri sendiri secara sadar).

Nih ya, segala sesuatu dan semua orang tahu bahwa untuk hidup sejahtera dimuka bumi ini tidak hanya pemenuhan kesiapan diri tapi pengaruh lingkungan sekitar juga ikut berperan. Konteks kali ini mungkin lebih bergaya misuh-misuh tapi (jujur) tetap bermaksud kontemplatif dari keadaan yang serba gila ini.

Ketidakadilan, Kapitalis yang eksploitatif, Orang dalem, dan segala sebutan sejenis lainnya–pernahkah terbesit untuk tinggal di Surga aja gak as soon as possible? (wkwk negeri Konoha kasta tinggi). Gak jarang di masa dinamis nya hidup dewasa menjadi sering muncul pertanyaan yang lebih praktis: 'Apa aku bakal lebih cocok kerja di Pemerintah atau Swasta?' Pilihan karir sering kali jadi jalan keluar paling nyata, meski di baliknya tetap ada kompleksitas yang nggak kalah membingungkan.

Beberapa yang berpengalaman di keduanya atau salah satu, sering berujar bahwa hal ini bukanlah jadi perbandingan. Bahasa nya seperti ini, "selalu ada + -, tinggal kembalikan pada kondisi dan posisi kamu saat ini". Jujur ternyata mencari celah untuk berbaik sangka semakin kritis dan eksklusif yaa, karena ngga semua orang bisa bertahan dengan cara yang khusyuk memerhatikan kesadaran diri full 24 jam. Tekanan dari luar, baik dari lingkungan kerja, media sosial, hingga gosip seputar 'hidup ideal,' juga semakin menumpuk. Menariknya basis penciptaanNya menurut Kang Zein Permana bilang dari buku (in)secure, bahwa tiap manusia antar manusia lainnya selalu saling 'lihat' rumput sebelahnya sehingga, itulah membuat adanya fungsi manusiawi sebagai makhluk sosial.



Kita gabisa memungkiri ketidakadilan yang terjadi di kedua instansi besar tersebut, baik secara terang-terangan atau sekedar cuma orang dalem aja yang tahu. Ada masanya ketika sedang dengan kelompok yang punya latar belakang atau nilai yang berbeda, sentilan soal pilihan karir terasa lebih personal daripada sekadar pendapat, karena terkesan menguji atas keputusan yang diambil. Hal ini wajar terjadi, karena selain basis perbandingan tadi, tanpa kita sadari keputusan yang diambil sering kali dipengaruhi paparan media atau gaya hidup obrolan orang lain hari ini yang cenderung clickbait dengan kondisi realitas yang sedang dihadapi. 

Alih-alih memaki sistem dan impulsif kelakukan, kalau sudah begini, yang perlu kita evaluasi bukan lagi sekedar tentang seberapa langkah yang diambil, tapi juga reidentified sumber-sumber yang memengaruhi keputusan itu. Look for your algorithm today to find the attractions you need. Good Luck!



Komentar

Postingan Populer