Kesebelas: Re-Learn or Learn More?

Sedari kecil pernahkah sadar bahwa saat itu sedang belajar tentang apapun yang diinderakan? Tentu tidak, keyataannya memang sekosong itulah otakku saat itu-yang segala dicerna. Jelang usia bertambah tiba-tiba kemampuan belajarku meningkat, dari yang awalnya asal nyerap kemudian berpikir hingga  bisa membedakan, membandingkan, memodifikasi, dll. Rupanya soal perkembangan tersebut secara konkret sudah tervalidasi dari teori-teori perkembangan kognitif yang sudah ada atau sering/pernah kita (aku) dengar sebelumnya.

Proses selalu mewarnai kehidupan kita baik secara tidak sadar/sadar. Karena setiap apapun yang ingin kita kerjakan, mau gamau perlu menutup target/hasil yang di eskpetasikan dahulu, kemudian melangkah awal memulai dengan berproses. Rintangan proses yang kadang orang jarang bahas dalam curhatannya adalah cerita soal ikhlas-yang wujudnya adalah sikap atau perilaku yang sudah kamu rasakan sekarang, memang tidak harus ada yang tau ko, karena manusia memang antar telinganya diberi keterbatasan untuk lebih banyak mendengar tentang diri sendiri bukan kebalikannya (konteksnya selflove ya, porsi untuk mendengar di luar kuasa diri juga perlu ko)

Proses dalam belajar pun mempunyai daya porsi pemahamannya masing-masing. Sehingga ketika suatu percakapan pembahasannya berbicara langsung kepada hasil, lantas hal apa yang bisa dievaluasi?Bahkan evaluasi itu sendiri berbicara tentang refleksi (proses) dari masa lalu yang sudah dilakukan yang kemudian hasilnya sedang/sudah kita rasakan saat itu. Oleh karena itu, istilah "proses" bukan hanya dilalui tapi dibenahi. Hal kecil dari berbenah-benah berawal dari kesadaran semrawutnya kondisi di sekitar kita (konkretnya: ketika barang berantakan). Apakah sejauh ini pikiran kita sudah benar-benar dibenahi?

Dunia ngga segelap yang kamu kira, karna kamu cahayanya

Entah tulisan ini arah pembicaraannya kemana-yea you know, tapi yang sedang aku rasakan saat ini, senang dan bersyukur bisa menyadari dan benar mengakui bahwa jika siklusnya itu seperti sudah jadi fitrah-Nya nampaknya, yang sebelok-belok nya terus kembali ke jalan yang lurus/benar

Sehingga, apapun proses itu sedang kamu jalani kemudian ngerasa stuck, it doesn't mean as your blaming overthink ko. Tapi pahami kehadirannya, bahwa respon tersebut merupakan sebuah fase jeda antar ambisinya kamu mengejar sesuatu saat itu dengan realita yang ada. Semua dikembalikan ke ketenangan jiwanya masing-masing, yang sudah dilatunkan-Nya bahwa "dijadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu (manusia)-QS2:45" 

Belajar soal proses emang perlu keseimbangan yang harus berkali-kali jatuh, supaya tau seberapa kuat dan tahan lamanya kamu bertahan hingga menuju level keseimbangan lainnya, semata-mata diarahkan oleh-Nya menuju manusia yang merdeka akan jiwa dan akalnya sampai dikatakan "kamu pantas!" ditempatkan di akhirat surga-Nya. 

*ending
"tiba-tiba insecure gegara masih banyak dosa hwaa"

Komentar

Postingan Populer