Kedelapan: Useless Time
Masa pertengahan bulan tahun 2021 saat ini, sedang penuh goncangan ombak.
Ombak pandemi yang datang-mundur tak berkesudahan.
Ombak perubahan iklim yang sedang pelan-pelan dengan pasti kian menyiksa
Ombak multi-informasi tidak diketahui benar tidaknya
Ombak pencapaian tiap orang dari yang terjauh hingga terdekat selalu jadi pancingan kekhawatiran diri
Ombak toxic perfectsionism yang pantang menjajaki pikiran
Ombak deep overthinker yang menggaruk keras akal dan nurani.
dan macam ombak lainnya
Semrawutnya masalah yang dipikirkan saja mampu membuat lelah mental tak terbaca.
Jika bermain membandingkan, tentu. Aku kalah potensi.
Perasaan malu, takut, dan khawatir memakan nurani
Merasakan lemah yang serendah-rendahnya a.k.a tak berdaya
Tak sanggup bersapa dengan teman
Bahkan tak sanggup bercemin diri
Semakin dipikir pun kian membuntu sia-sia
Maafkan dirimu wahai diri, memang sebenarnya sedari awal kamu tidak diciptakan untuk itu. Maha Kuasa mengingatkan setiap detiknya, bahwa dunia hanyalah tempat menabung nilai kebaikan setiap saat, bahkan saat ini. Dia tidak muluk banyak kemauan pada hambaNya yang mau mendengar, melihat selain mengajak berseru mengejar surga Nya dibanding lembar pengakuan ijazah.
Bukankah semua sudah jelas?
Tenang, ekspetasimu saat ini bukanlah yang terburuk dari ini semua
Namun, ternyata ada batasnya.
Kamu sedang jaga, tidak sendiri.
Kamu tahu tulisan ini hanya ungkapan perasaan yang mungkin kamu lainnya juga merasakan hal yang sama. Tidak perlu sering-sering dibaca karena kamu mengerti kamu bukan siapa-siapa di dunia ini. Rendahkan hatimu, latunkan ucapan hati dan mulutmu dengan bijak. Tak perlu sungkan dengan siapapun, karena disini kamu sedang menabung kebaikan dirimu sendiri. Saat terkecoh kembali, kamu harap dapat kembali, bukan kesini tapi kepadaNya.
Komentar
Posting Komentar