Keenam: Membandingkan dengan Orang Lain
![]() |
| seringnya menempel pada yang bukan kehendaknya pula nampak berantakan |
Diriku dan dirinya kerap kali membandingkan satu sama lain. Ternyata memang benar adanya soal pernyataan nasihat publik saat ini bilang bahwa "zaman sekarang perlu meluangkan waktu untuk berpuasa medsos". Bentar, kaitannya apa ni?
Gini, sadar atau tidak kita saat ini dimasuki banyak bangeeeett berbagai jenis informasi. Hal yang tidak mau kita ketahui pun media selalu ada cara untuk menawari kita tergoda melihat sesuatu yang sama sekali belum terpikirkan sebelumnya. Sungguh membutakan.
Mungkin tapi kayanya pasti, tidak hanya aku saja yang sebagai korban atas tantangan zaman ini, tapi juga dirasakan oleh hampir seluruh generasi rentan usia 20 an awal yang masih kentang dalam mengendalikan diri (samaan? iya, cape ya?) :(
Tapi, mari kita semangatkan diri yu setidaknya. Walaupun diluar sana mungkin tidak ada yang tahu atau mengerti tentang kegelisahan diri kita sekarang ini. Beneran aku cuma mau bilang, bahwa ga-pa-pa, diri mu ngga selemah yang kamu kira ko. Ketika diri kita sudah mengakui dan perlahan menerima pikiran dan hati yang sedang gelisah tersebut, itu sudah jadi karunia yang dikasih Allah untuk kamu sebenernya. Disinilah baik aku dan kamu diharuskan bersyukur.
Kesadaran tersebut menjadi langkah atau pondasi awal dari berbagai penyelesaian masalah yang bakal kita hadapi kedepan. Bahkan karunia lainnya adalah ujian atau cobaan yang Allah kasih hari ini kepada kita adalah jaminan bahwa sebenernya kita bisa melewati masalah tersebut. Oleh karena itu, disini di dunia (dalam islam) diajarkan untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan, karena sebetulnya hidup dan adanya kita sudah di 'settle' baik secara tadir maupun nasibnya kita di dunia ini.
Kita manusia sebenernya malah diberi kemudahan, alih-alih menyia-nyiakan waktu dengan selalu menyalahkan berkutat pada keadaan masalah yang dirasakan, akan lebih baik jika berpikir bagaimana menyelesaikannya dengan baik-baik.
Salah satu pertolongan pertama versiku ketika pikiran sesat ini datang, aku selalu mengafirmasi diri sendiri untuk selalu bilang:
"Oke dari kemarin sudah bejibun terjadi berbagai kejadian yang bikin rasanya sangat tertekan. Berarti sekarang aku saat ini sedang mengalami di masa terendahnya jiwa, sehari dua hari kedepan pasti kamu bakal ngerasain pahitnya merendahkan diri dengan asumsi-asumsi yang kamu ciptain sendiri. Gapapa, selamat menjalani prosesnya dan jangan lupa segera berbenah ya, ingat tugas kuliahh masih numpukk!!!"
Dampak dari bagian overthink ini memang salah satunya menjadi personal yang menjadi unmood dalam ngerjain segala hal. Terutama pada hal-hal kewajiban yang sedang kita perankan untuk hidup berdampingan bersama orang lain, seperti sebagai anak ataupun sebagai mahasiswa. Kang Zein Permana lewat webinarnya berkata soal meningkatkan mood adalah perlunya prinsip 'kerjain aja dulu' minimal 5 menit. Karena biasanya, awal-awal untuk mau mulai mengerjakan kewajiban rasanya kadang super mager hingga terkena resikoya.
Well done buat cerita overthink kaliini, semoga ada hikmah yang bisa dipetik. Intinya perasaan membandingkan orang lain selalu ada di masa perjalanan hidup kita, tinggal bagaimana memikirkan untuk mengendalikan diri dengan meminimalisir perasaan tersebut dengan tahapan yang berprogresif untuk berkembang kembali.

Komentar
Posting Komentar