Kedua : Cerita Jurusan #1


satu angkatan, 2018

Berawal dari bulan-bulan terakhir lulus SMA, pihak keluarga merekomendasikan (tidak otoriter) saya untuk meneruskan perjalanan ibu saya menjadi seorang lulusan Pendidikan Khusus (sebelumnya Pendidikan Luar Biasa) di Universitas Pendidikan Indonesia dengan berbagai pertimbangan, salahsatunya agar dari segi kebutuhan buku-buku akademik tidak terlalu mengeluarkan biaya. Keputusan tersebut waktu itu saya terima-terima saja toh saya pun waktu itu belum memutuskan ingin jurusan apa. Jurusan tersebut ditampung dahulu sampai saya menemukan jurusan yang saya benar-benar inginkan.

Sampai waktu berjalan cepat karena terlalu menikmati suasana dari kelulusan SMA, jurusan yang diinginkan masih belum ditemukan. Situasi semakin tegang, mau tidak mau, harus menunda 1 tahun untuk pemantapan diri. Dalam perjalanan 1 tahun tersebut saya merenungi 2 jurusan pilihan saya, secara berurutan yaitu, Psikologi dan Tafsir Quran. Jurusan rekomendasi keluarga masih saya simpan dan jadilah 3 pilihan jurusan, (1)Psikologi, (2)Tafsir Quran, (3)Pendidkan Khusus.

Ketika bulan-bulan penerimaan, saya keterima di 2 universitas di pilihan (2) dan (3), dengan berbagai pertimbangan akhirnya memilih pilihan (3), pertimbangan tersebut salahsatunya ilmu dasar (Bahasa Arab) yang terkait (pilihan 2) belum mampu memenuhi kriteria. Akhirnya dengan penguatan penuh kepada Tuhan dan motivasi yang kuat dari keluarga, saya memilih pilihan 3, walaupun saat itu belum ada alasan secara personal yang kuat di diri saya.

Baru terasa ketika menjadi mahasiswa resmi di jurusan Pendidikan Khusus, banyak ilmu multiaspek dipelajari, dari yang pasti berhubungan dengan Pendidikan itu sendiri, disabilitas, sampai dengan ilmu-ilmu kedokteran (anatomi, fisiologi, pengukuran) dan dunia psikologi. Saya mulai tertarik dengan berpikir lewat pertanyaan yang ada di pikiran saya “sebesar apa sih masalah ini yang membuat jurusan saya mempelajari dari multiaspek keilmuwan?”.  

Secara umum, Indonesia mempunyai masalah yang sudah membengkak  (bersejarah/turun menurun) yaitu rendahnya kualitas pendidikan. Dengan masalah membengkaknya tersebut, membentuk masalah bengkak lainnya salah satunya yang terkait dengan jurusan saya, pendidikan terhadap kaum disabilitas. Masalah terebut ditinjau dengan berbagai perspektif, kedokteran dan psikolog. Kekuatan ilmu tersebut, membuat saya berpikir bahwa saya mempelajari ini merupakan tanggung jawab saya yang cukup berat untuk merubah suatu tahapan awal seseorang mengenal segalanya yaitu, Pendidikan. Apalagi dikhususkan untuk mempelajari orang-orang yang mempunyai hambatan tertentu (tuna netra, rungu, grahita, daksa, dan laras) sampai yang berbakat istimewa sekalipun. Ini tentunya sekaligus menjadi semangat baru bagi saya untuk merubah konsepsi Pendidikan Indonesia yang sesuai dengan nilai/norma ideologisnya. Apalagi kebutuhan Pendidikan disabilitas yang masih sangatlah rendah dan minim baik keadaannya maupun pengakuaannya di Indonesia.

Kejadian tersebut menyadari diri saya bahwa ketika tidakada/bingung menentukan suatu pilihan/kemauan, mulailah dengan berangkat dari masalah yang terjadi saat ini, berlanjut dengan memikirkan bagian atau bidang apa yang ingin diperbaiki? Sesuaikan dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Tidak masalah jika belum tergambar solusi kedepannya toh itu manusiawi. Karena dari segala  kemauan ada pagar utama yang harus dimiliki oleh setiap kalangan yang memperkokoh perjalanan kedepannya yaitu, niat dan semangat yang tinggi, mempunyai keyakinan optimis dan tidak mengharapkan apapun selain kepercayaannya terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Btw itu bekas curhat dari essay beasiswa yang sedang aku apply, jadi sedikit formal (males edit jadi gapapa ya), mohon doanya temen-temen.
Semoga menangkap hikmahnya 👌

Penasaran gasi kalian aku masuk lewat jalur ujian mana? 
SOON IN CERITA JURUSAN 2 OK!






Komentar

Postingan Populer